Selasa, 01 Desember 2015

Jatuh




       Pagi itu terdengar nyanyian burung-burung seakan menyambutku di pagi yang sejuk. Mentari pun ikut menyambutku dengan segal kehangatannya. Pada hari minggu merupakan hari libur. Itu yang selalu kuharapkan pada hari minggu itu. Terdengar suara panggilan untuk menyuruhku membersihkan rumah. Ternyata suara berasal dari ibuku. Aku terkejut dan langsung bangun menaggapi suara itu dengan nada sedikit malas. Pada saat itu aku duduk dikelas 4 SD.

        setelah membasuh muka aku langsung bergegas mengambil sapu dan kotak sampah bersama sepupuku. Embun-embun yang menempel dan membasahi rumput dan dedaunan serta udara sejuk dipagi hari itu membuatku semangat untuk membersihkan sampah yang bertebaran di sekitar rumahku. Aku memegang kotak sampah sedangkan sepupupku memegang sapu. Kami memulai pekerjaan kami. Aku mulai pekerjaanku dengan mengambil sampah yang basah dan memindahkannya kedalam kotak sampah. Setelah beberapa lama, rasa semangatku tadi berubah menjadi rasa capek.

“Hufft…………….banyak sekali sampahnya.”keluhku, memang pada saat itu sampah disekitar rumahku beretebaran sangat banyak dan selama kurang lebih 2 minggu belu dibersihkan serta banyak pohon-pohon di sekitar rumahku. Sedikit demi sedikit sampah yang berserakan kupunguti.

       Aku mulai lelah, tetapi sampah masih banyak. Aku memutuskan untuk duduk dibawah pohon yang rindang. Sedangkan sepupuku masih asyik menyapu sampah-sampah . disaat termenung aku melihat tangga yang tegak dan bersandar pada sebuahpohon  rambutan yang rimbun. Dengan naluriku aku memanjat pohon yang merupakan   hobiku pada saat itu. Dengan alasan yang tak jelas aku memanjat pohon dengan perlahan. Setelah sampai di atas pohon aku melihat sekeliling rumahku yang asri dan rindang serta hembusan angin yang sepoi-sepoi membuat hati menjadi tenang. Tetapi ketika aku berpindah dari dahan yang satu dengan dahan yang lain , tanpa sepengetahuanku aku menginjak salah satu dahan yang rapuh. Tanpa sempat berpegang pada dahan yang kuat, akupun jatuh terhempas ke tanah.
“ auuch…………………………” aku merintih kesakitan.
Kepalaku terbentur akar pohon yang cukup tajam dan samping tubuhku terbentang deretan genteng yang telah lama. Untung saja tubuhku tak menimpa genteng tersebut.

        Aku bangkit dan berdiri lenganku terasa sangat sakit. Aku tak menyadari bahwa kepalaku mengeluarkan darah. Dengan cepat aku mengajak ibuku ke tukang urut yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Aku melihat lengan kiriku yang semakin membesar membuatku mempercepat langkah kakiku untuk sampai di tempat tukang urut tersebut.

       Sesampainya disana, lenganku diperiksa oleh tukang urut tersebut. Lenganku diurut dengan bantuan minyak sayur dan bawang merah. Seketika aku menjerit kesakitan . 15 menit kemudian aku pun selesai di urut. Dengan rasa yang sedikit senang bercampur dengan rasa sakit yang berdenyut-denyut, akupun pulang dan tukang urut mengatakan bahwa aku harus di urut lagi setiap 2  minggu sekali. Rasa sakitku tak hanya sampai disitu. Kepalaku yang berdarah dikasih alcohol oleh dokter. Seketika aku menjerit kesakitan. Terasa pedih sekali. Selesai sikasih alcohol kepalaku berhenti mengeluarkan darah. Setelah 4 kali pertemuan dengan tukang. Akhirnya lengankupun sembuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar