Minggu, 08 November 2015

Asuhan Keperawatan Klien Dengan Tuberkulosis



 
ASUHAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN TUBERKULOSIS PARU

I.              KONSEP DASAR PENYAKIT

1.1  PENGERTIAN
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Kuman batang tahan asam ini dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit. Ada beberapa mikrobakteria patogen , tetapi hanya strain bovin dan human yang patogenik terhadap manusia. Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 μm, ukuran ini lebih kecil dari satu sel darah merah.

1.2  KLASIFIKASI DAN ETIOLOGI
Klasifikasi
Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik, bakteriologik, radiologik dan riwayat pengobatan sebelumnya. Klasifikasi ini penting karena merupakan salah satu faktor determinan untuk menetapkan strategi terapi.
Sesuai dengan program Gerdunas P2TB klasifikasi TB Paru dibagi sebagai berikut:
a. TB Paru BTA Positif dengan kriteria:
. Dengan atau tanpa gejala klinik
2. BTA positif: mikroskopik positif 2 kali, mikroskopik positif 1 kali disokong biakan positif satu kali atau disokong radiologik positif 1 kali.
3. Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru.
b. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria:
1. Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif
2. BTA negatif, biakan negatif tetapi radiologik positif.
c. Bekas TB Paru dengan kriteria:
a. Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif
b. Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru.
c. Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif, menunjukkan serial foto yang tidak berubah.
d. Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung).

Etiologi
Penyebabnya adalah kuman microorganisme yaitu mycobacterium tuberkulosis dengan ukuran panjang 1 – 4 um dan tebal 1,3 – 0,6 um, sejenis kuman yang berbentuk batang terdiri atas asam lemak (lipid). termasuk golongan bakteri aerob gram positif serta tahan asam atau basil tahan asam.


1.3  MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala pada klien secara obyektif adalah :
1. Keadaan postur tubuh klien yang tampak etrangkat kedua bahunya.
2. BB klien biasanya menurun; agak kurus.
3. Demam, dengan suhu tubuh bisa mencapai 40 – 41° C.
4. Batu lama, > 1 bulan atau adanya batuk kronis.
5. Batuk yang kadang disertai hemaptoe.
6. Sesak nafas.
7. Nyeri dada.
8. Malaise, (anorexia, nafsu makan menurun, sakit kepala, nyeri otot, berkeringat pada malam hari).

1.4  DIAGNOSA BANDING

·         Asma bronchial
·         Bronkiektatis
·         Gagal jantung kogestif
·         Pneumonia

1.5  PROGNOSIS
Tuberculosis biasanya mengacu pada hasil kemungkinan Tb. Prognosis dari Tb dapat mencakup durasi tuberculosis, kemungkinan komplikasi dari Tb, mungkin hasil, prospek untuk pemulihan, masa pemulihan Tb, tingkat kelangsungan hidup, tingkat kematian, dan kemungkinan hasil lain dalam prognosis keseluruhan Tb. Kabar baik bagi orang dengan penyakit TBC bisa hampir selalu dapat disembuhkan dengan pengobatan dan perwatan dari dokter serta tim medis.




 


II.            KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

2.1  PATOFISIOLOGI
TUBERKULOSIS PARU


PATOGENESIS


Kuman

Saluran pernapasan / luka terbuka

Reaksi hipersensitivitas
 

Reaksi peradangan pada paru-paru


 
Pneumonia akut

Sembuh sendiri             terus berlanjut

Basil masuk ke getah bening

Makrofag bersatu

Sel tuberkel epiteloid


2.2  PENGKAJIAN
2.2.1       ANAMNESA
a.     Identitas pasien dan identitas penanggung jawab

b.    Keluhan utama : pada kasus ini  biasanya pasien merasakan sesak napas, batuk berdarah, nyeri dada, keluar keringat saat tidur.
c.     Riwayat penyakit sekarang : biasanya pasien sakit dada saat batuk, cepat lelah,

d.    Riwayat penyakit dahulu : pasien biasanya dari penyakit keluarga, sakit batuk lama dan tidak sembuh,

e.     Riwayat penyakit keluarga : dalam anamnesa pada pasien biasanya dari penyakit keturunan atau keluarganya.

f.     Pola kebiasaan:
§  Pola nutrisi           : biasanya pasien mengalami anoreksia
§  Pola eliminasi       : biasanya pasien mengalami gangguan dalam eliminasi.
§  Pola istirahat        : biasanya pasien mengalami gangguan pola tidur.
§  Pola aktivitas       : biasanya pasien beraktivitas seperti biasa cepat lelah dan sesak saat beraktifitas berat.

g.    Riwayat psikologis : pada pasien penyakit ini biasanya, tidak berdaya, dan ansietas.


2.2.2       PEMERIKSAAN FISIK
§  Keadaan umum    : biasanya pasien tampak lemah

      PEMERIKSAAN SECARA HEAD TO TOE
      Biasanya pada pasien tuberkulosis
§  Kepala     : tidak terdapat lesi
§  Mata        : simetri tidak anemis, kondisi mata baik.
§  Hidung     : mukosa hidung lembab
§  Telinga     : simetris, pendengaran baik.
§  Leher       : kaji leher pasien apakah ada pembesaran kelenjar tiroid atau                               ttidak.
§  Thoraks   : lakukan inspeksi, perkusi, palpasi, dan auskultasi;respirasi                                meningkat dan dangkal kemudian menjadi lambat
§  Abdomen : lakukan perkusi dan auskultasi. Tedapat lesi pada abdomen                               dan nyeri tekan

2.2.3    STUDI DIAGNOSTIK DAN HASIL YANG MENGINDIKASIKAN PENYAKIT
                    
a., PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK.
1. Kultur sputum : positif untuk mycobakterium pada tahap akhir penyakit.
2. Ziehl Neelsen : (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) positif untuk basil asam cepat.
3. Test kulit : (PPD, Mantoux, potongan vollmer) ; reaksi positif (area durasi 10 mm) terjadi 48 – 72 jam setelah injeksi intra dermal. Antigen menunjukan infeksi masa lalu dan adanya anti body tetapi tidak secara berarti menunjukan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mycobacterium yang berbeda.
4. Elisa / Western Blot : dapat menyatakan adanya HIV.
5. Foto thorax ; dapat menunjukan infiltrsi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi sembuh primer atau efusi cairan, perubahan menunjukan lebih luas TB dapat masuk rongga area fibrosa.
6. Histologi atau kultur jaring
Foto Rontgen Klien Tuberkulosa Paru
an ( termasuk pembersihan gaster ; urien dan cairan serebrospinal, biopsi kulit ) positif untuk mycobakterium tubrerkulosis.
7. Biopsi jarum pada jarinagn paru ; positif untuk granula TB ; adanya sel raksasa menunjukan nekrosis.
8. Elektrosit, dapat tidak normal tergantung lokasi dan bertanya infeksi ; ex ;Hyponaremia, karena retensi air tidak normal, didapat pada TB paru luas. GDA dapat tidak normal tergantung lokasi, berat dan kerusakan sisa pada paru.
9. Pemeriksaan fungsi pada paru ; penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara resido dan kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkhim / fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural (TB paru kronis luas).
                    

2.3        PENATALAKSANAAN MEDIS
   c. Dalam pengobatan TB paru dibagi 2 bagian :
1. Jangka pendek.
Dengan tata cara pengobatan : setiap hari dengan jangka waktu 1 – 3 bulan.
o Streptomisin inj 750 mg.
o Pas 10 mg.
o Ethambutol 1000 mg.
o Isoniazid 400 mg.
Kemudian dilanjutkan dengan jangka panjang, tata cara pengobatannya adalah setiap 2 x seminggu, selama 13 – 18 bulan, tetapi setelah perkembangan pengobatan ditemukan terapi.
Therapi TB paru dapat dilakkukan dengan minum obat saja, obat yang diberikan dengan jenis :
o INH.
o Rifampicin.
o Ethambutol.
Dengan fase selama 2 x seminggu, dengan lama pengobatan kesembuhan menjadi 6-9 bulan.
2. Dengan menggunakan obat program TB paru kombipack bila ditemukan dalam pemeriksan sputum BTA ( + ) dengan kombinasi obat :
o Rifampicin.
o Isoniazid (INH).
o Ethambutol.
o Pyridoxin (B6)


2.4  DIAGNOSA KEPERAWATAN
ANALISA DATA
NO
DATA
ETIOLOGI
MASALAH
1
Ds: Px mengatakan sulit dalam
        bernapas
Do: -ada penumpukan secret

      -sulit dalam bernapas
Kuman / bakteri
|
Infeksi jalan napas
|
Penumpukan basil
|
Peradangan
|
Sulit bernapas
Bersihan jalan napas.
2
Ds: Px mengatakan sakit dalam
        Bernapas
Do: - sesak napas

Infeksi kuman /
Bakteri
|
Basil tuberculosis
|
Peradangan alveoli
|
Leukosit memfago        sitosis bakteri
|
Makrofak
|
Konsolidasi alveoli
|
Gangguan pertuka
ran gas
Gangguan pertukaran gas

2.5  RENCANA KEPERAWATAN
1
Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekret yang kental
Ds : -
Do : - kelemahan
        - napas pendek

Setelah di lakukan tindakan keperawatan 1 X 24 jam diharapkan kebersihan jalan napas efektif. Dengan kriteria:
- Pola nafas normal
- penurunan kekenta
   lan sekresi.
-.ajarkan pasien batuk efektik
-anjurkan pasien untuk mengurangi aktifitas

2
Gangguan pertukaran gas sehubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler ditanda oteh:
DO: - batuk berdarh
       - nyeri saat batuk

DS: - sesak napas
       - nyeri dada saat batuk
       -

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1 X 24 jam diharapkan pasien mampu memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif.
- memberikan posisi yang nyaman.
-observasi fungsi pernapasan, catat freuensi pernapasan, perubahan tanda vital.


2.6  EVALUASI
-          a. Keefektifan bersihan jalan napas.
b. Fungsi pernapasan adekuat untuk mernenuhi kebutuhan individu.
c. Perilaku/pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi.
d. Kebutuhan nutrisi adekuat, berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi.
e. Pemahaman tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dan perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan.



DAFTAR PUSTAKA
Doenges. E. Marylin. 1992.Nursing Care Plan. EGC. Jakarta.
Pearce. C. Evelyn. 1990.Anatomi dan Fisiologi untuk paramedis. Jakarta.
http : www.tubercolosis.com diakses pada tanggal 20 januari 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar