Minggu, 29 November 2015

Cerita Pendek "Macet"



      
 Lonceng berbunyi sebanyak empat kali, menandakan waktunya pulang sekolah. Aku melangkahkan kaki menyusuri jalan menuju tempat kami biasa menunggu bus. Bersama dengan kedua sahabat karibku, Rahma dan Indah. Kami mengobrol, mengeluarkan uneg-uneg sambil menunggu bus. Tiba-tiba di tengah kami sedang asyik mengobrol ada sebuah bus muncul dari kejauhan, lalu kami melambai-lambaikan tangan berharap bus itu mau berhenti. Tapi Ah... Sial, bus itu tidak mau mengajak kami. Kami pun melanjutkan mengobrol untuk mengalihkan kejenuhan kami.

       Waktu terus bergulir, tapi lama kelamaan kami mulai bosan, lalu tiba-tiba Rahma mengeluarkan sebuah pendapat kecil yang sedikit mengurangi kejenuhan kami "Eka, Indah, dari pada kita menunggu bus lama seperti ini, lebih baik kita beli jajan dulu yuk..." Rahma berkata kepada kami. Lalu serentak Aku dan Indah menjawab "ayuk..." maka kami bertiga menuju ke sebuah warung makanan yang letaknya tidak jauh dari tempat kami menunggu bus.


       Pada saat kami duduk-duduk di warung sambil membeli makanan, tiba-tiba dua bus lewat, kami pun langsung berteriak "Aaaa..." lalu Indah berkata "tadi saat kita menunggu bus di sana tidak ada bus sama sekali. Giliran kita jajan di warung dua bus sekaligus lewat..." kata Indah sambil menampakkan wajah yang kesal. Aku pun berkata kepada mereka "ya sudahlah, kita tunggu saja bus di tempat tadi, siapa tahu ada bus lewat lagi."

       tak lama kemudian terlihat sebuah bus dari kejauhan berjalan dengan kecepatan kira-kira 40 kilometer per jam. Tentu saja kami bertiga langsung mengambil posisi, saat bus sudah mulai mendekat kami langsung melambai-lambaikan tangan, dan ternyata tak disangka-sangka bus itu mau berhenti dan mengajak kami naik. Walaupun busnya jelek ditambah lagi dengan penumpangnya yang penuh sehingga dengan terpaksa kami harus berdesak-desakan, tapi kami merasa lega karena sudah mendapatkan bus.

       Di tengah-tengah perjalanan ternyata.... macet. Macetnya semakin lama Semakin padat. Kami pun tak bisa berkutik, kami tak bisa keluar, bus tersebut tidak bisa mundur kebelakang karena di belakang sudah penuh dengan kendaraan baik mobil ataupun m0tor. Bus tersebut juga tidak bisa maju ke depan karena jarak antara bus itu dengan m0bil yang ada di depan hanya beberapa centi meter saja. Aku mulai merasa pengap, tidak ada oksigen, tidak ada angin, tidak ada bau yang menyegarkan. Berjam-jam aku dan teman-temanku terjebak di dalam bus, terjebak dalam kemacetan. Aku ingin berteriak namun tak bisa, karena di sini bukanlah sebuah hutan yang sepi, tapi sebuah bus yang penuh dengan manusia, kalau Aku berteriak-teriak tanpa alasan yang jelas nanti disangka orang gila, dadaku mulai sesak, aku merasa tidak bisa bernafas. Aku ingin marah namun tak bisa juga, karena Aku tak tahu harus marah dengan siapa. Tidak ada sesuatu yang bisa diminum, karena pada saat itu aku merasa sangat haus.
Lalu aku berkata kepada Rahma dan Indah "seandainya saja kita tadi jalan kaki saja, mungkin kita sudah sampai dari tadi, dan sudah beristirahat di rumah."
       tak lama kemudian bus tersebut menggerakkan rodanya, Aku dan teman-temanku mulai kegirangan, tapi hanya beberapa detik saja, bus itu berhenti lagi. Begitupun seterusnya, berjalan sedikit, berhenti lagi, jalan lagi berhenti lagi, menyebalkan....

       Berjam-jam kami berdiri di dalam bus, berharap agar kemacetan di jalan raya ini usai. Walaupun kami dalam keadaan yang penuh dengan kejengkelan, tapi kami berusaha sabar untuk tidak terlalu memusatkan perhatian pada kemacetan. Tak terasa sedikit demi sedikit roda bus berputar.... Berputar perlahan-lahan, lalu berhenti lagi. Yah, walaupun busnya bergerak secara perlahan, namun sedikit demi sedikit telah menunjukkan kemajuan.

       Setelah beberapa jam kemudian, bus tersebut hampir mendekati ke sebuah tempat dimana tempat itu menjadi tujuan kami untuk berhenti. Pandangan mataku terfokus pada tempat itu, namun busnya tidak berjalan. Hari semakin sore, lalu Aku dan teman-temanku mengambil keputusan untuk turun dari bus disitu. Padahal hanya beberapa meter saja kami sampai ditempat dimana kami biasa turun dari bus. Dengan penyesalan kecil kami bertiga berjan kaki menuju ke rumah masing-masing. Setelah sesampainya di rumah, Aku langsung mengambil air putih, lalu Aku meminum air putih itu bagaikan seorang musafir di padang pasir yang tandus yang tidak mendapatkan air berhari-hari. Setelah Aku merasa dahaga telah hilang, aku beristirahat sambil mengingat-ingat pengalaman di bus tadi yang tak akan pernah terlupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar